My bookmarksSign up free
← Aviation Offences Act 1984

Aviation Offences Act 1984 s 5

Aviation Offences Act 1984 s 5

s 5 Powers of commander of aircraft

(1) The provisions of subsections (2), (3), (4) and (5) shall have effect for the purposes of any proceeding before any court in Malaysia. (2) If the commander of an aircraft in flight, wherever that aircraft may be, has reasonable grounds to believe in respect of any person on board the aircraft— (a) that the person in question has done or is about to do any act on the aircraft while it is in flight which jeopardizes or may jeopardize— (i) the safety of the aircraft or of persons or property on board the aircraft; or (ii) good order and discipline on board the aircraft; or (b) that the person in question has done on the aircraft while in flight any act which in the opinion of the commanders is a serious offence under any law in force in the country in which the aircraft is registered, not being a law of a political nature or based on racial or religious discrimination, then, subject to subsection (4), the commander may take with respect to that person such reasonable measures, including restraint of his person, as may be necessary— (i) to protect the safety of the aircraft or of persons or property on board the aircraft; (ii) to maintain good order and discipline on board the aircraft; or (iii) to enable the commander to disembark or deliver that person in accordance with subsection (5), and, for the purposes of paragraph (b), any Malaysian-controlled aircraft shall be deemed to be registered in Malaysia whether or not it is in fact so registered and whether or not it is in fact registered in some other country. (3) Any member of the crew of an aircraft and any other person on board the aircraft may, at the request or with the authority of the commander of the aircraft, and any such member shall if so required by that commander, render assistance in restraining any person whom the commander is entitled under subsection (2) to restrain; and at any time when the aircraft is in flight any such member or other person may, without obtaining the authority of the commander, take with respect to any person on board the aircraft any such measures as are mentioned in subsection (2) which he has reasonable grounds to believe are immediately necessary to protect the safety of the aircraft or of persons or property on board the aircraft. (4) Any restraint imposed on any person on board an aircraft under the powers conferred by this section shall not be continued after the time when the aircraft first ceases to be in flight unless before or as soon as is reasonably practicable after that time the commander of the aircraft causes notification of the fact that a person on board the aircraft is under restraint and of the reasons therefor to be sent to an appropriate authority of the country in which the aircraft so ceases to be in flight, but subject to such notification, such restraint may be continued after that time— (a) for any period, including the period of any further flight, between that time and the first occasion thereafter on which the commander is able with any requisite consent of the appropriate authorities to disembark or deliver the person under restraint in accordance with subsection (5); or (b) if the person under restraint agrees to continue his journey under restraint on board that aircraft. (5) The commander of an aircraft— (a) if, in the case of any person on board the aircraft, he has reasonable grounds— (i) to believe as mentioned in paragraph (2)(a); and (ii) to believe that it is necessary so to do in order to protect the safety of the aircraft or of persons or property on board the aircraft or to maintain good order and discipline on board the aircraft, may disembark that person in any country in which that aircraft may be; and (b) if, in the case of any person on board the aircraft, he has reasonable grounds to believe as mentioned in paragraph (2)(b), may deliver that person— (i) in Malaysia to a police officer or an immigration officer; or (ii) in any other country which is a Convention country, to an officer having functions corresponding to the functions either of a police officer or of an immigration officer in Malaysia. (6) The commander of an aircraft— (a) if he disembarks any person in pursuance of paragraph (5)(a) in the case of a Malaysian-controlled aircraft, in any country or, in the case of any other aircraft, in Malaysia, shall report the fact of, and the reasons for, that disembarkation to an appropriate authority in the country of disembarkation; and (b) if he intends to deliver any person in accordance with paragraph (5)(b) in Malaysia or, in the case of a Malaysiancontrolled aircraft, in any other country which is a Convention country, shall before or as soon as reasonably practicable after landing give notification of his intention and of the reasons therefor, where the country in question is Malaysia, to a police officer or an immigration officer or, in the case of any other country which is a Convention country, to an officer having functions corresponding to the functions either of a police officer or of an immigration officer in Malaysia, and any commander of an aircraft who without reasonable cause fails to comply with the requirements of this subsection commits an offence under this Act and shall be liable on conviction to a fine not exceeding one thousand ringgit.

Malay text (authoritative)

Kuasa komander pesawat udara

(1) Peruntukan subseksyen (2), (3), (4) dan (5) hendaklah berkuat kuasa bagi maksud apa-apa prosiding di mana-mana mahkamah di Malaysia. (2) Jika komander sesuatu pesawat udara dalam penerbangan, di mana saja pesawat udara itu berada, mempunyai alasan yang munasabah bagi mempercayai berkenaan dengan mana-mana orang dalam pesawat udara― (a) bahawa orang yang berkenaan itu telah melakukan atau sedang hendak melakukan apa-apa tindakan dalam pesawat udara itu semasa berada dalam penerbangan yang mengancam atau mungkin mengancam― * Catatan― Akta ini menggantikan Ordinan Ekstradisi 1958 [Ord. 2 Tahun 1958] dan Akta Penjenayah Fugitif Komanwel 1967 [Akta 54 Tahun 1967]–lihat seksyen 54 Akta 479. (i) keselamatan pesawat udara atau orang atau harta dalam pesawat udara; atau (ii) ketertiban dan disiplin dalam pesawat udara; atau (b) bahawa orang berkenaan itu telah melakukan dalam pesawat udara itu semasa berada dalam penerbangan apaapa tindakan yang pada pendapat komander adalah suatu kesalahan yang serius di bawah mana-mana undangundang yang berkuat kuasa di negara di mana pesawat udara itu didaftarkan, yang bukannya undang-undang yang bersifat politik atau berasaskan diskriminasi bangsa atau agama, maka, dengan tertakluk kepada subseksyen (4), komander boleh mengambil apa-apa langkah yang munasabah terhadap orang itu, termasuk menghalang diri orang itu, sebagaimana perlu― (i) untuk menjaga keselamatan pesawat udara atau orang atau (i) harta dalam pesawat udara; (ii) untuk menjaga ketertiban dan disiplin dalam pesawat (ii) udara; atau (iii) untuk membolehkan komander turun kapal atau menghantar serah orang itu mengikut subseksyen (5), dan, bagi maksud perenggan (b), mana-mana pesawat udara kawalan Malaysia hendaklah disifatkan didaftarkan di Malaysia sama ada atau tidak ia sebenarnya didaftarkan sedemikian dan sama ada atau tidak ia sebenarnya didaftarkan sedemikian di suatu negara lain. (3) Mana-mana anggota kru pesawat udara dan mana-mana orang lain dalam pesawat udara boleh, atas permintaan atau dengan kuasa komander pesawat udara itu, dan mana-mana anggota itu hendaklah jika dikehendaki sedemikian oleh komander itu, memberi bantuan dalam menghalang mana-mana orang yang komander berhak di bawah subseksyen (2) untuk menghalang; dan pada bila-bila masa apabila pesawat udara berada dalam penerbangan mana-mana orang itu atau orang lain boleh, tanpa mendapat kebenaran daripada komander, mengambil apa-apa langkah seperti yang disebutkan dalam subseksyen (2) terhadap mana-mana orang yang berada dalam pesawat udara yang dia mempunyai alasan yang munasabah bagi mempercayai adalah perlu dengan segera untuk melindungi keselamatan pesawat udara atau orang atau harta dalam pesawat udara. (4) Apa-apa halangan yang dikenakan ke atas mana-mana orang dalam pesawat udara di bawah kuasa yang diberikan di bawah seksyen ini tidaklah boleh diteruskan selepas masa apabila pesawat udara itu mula-mula terhenti berada dalam penerbangan melainkan sebelum atau sebaik sahaja dapat dilakukan dengan munasabahnya selepas masa itu komander pesawat udara menyebabkan diberitahu akan hal orang yang berada dalam pesawat udara sedang dihalang dan sebab-sebabnya dihantar kepada pihak berkuasa yang berkenaan negara di mana pesawat udara itu terhenti berada dalam penerbangan, tetapi dengan tertakluk kepada pemberitahuan yang sedemikian itu, penghalangan itu boleh diteruskan selepas masa itu― (a) bagi apa-apa tempoh, termasuk tempoh apa-apa penerbangan lanjutan, di antara masa itu dan kejadian pertama selepasnya apabila komander itu dibolehkan dengan apa-apa persetujuan yang dikehendaki oleh pihak berkuasa berkenaan untuk mendarat atau menghantar serah orang yang sedang dihalang mengikut subseksyen (5); atau (b) jika orang yang sedang dihalang bersetuju untuk meneruskan perjalanannya dalam keadaan dihalang dalam pesawat udara itu. (5) Komander sesuatu pesawat udara― (a) jika, dalam hal mana-mana orang yang berada dalam pesawat udara, dia mempunyai alasan yang munasabah― (i) bagi mempercayai seperti yang disebutkan dalam perenggan (2)(a); dan (ii) bagi mempercayai bahawa adalah perlu supaya dapat menjaga keselamatan pesawat udara atau orang atau harta dalam pesawat udara atau menjaga ketertiban dan disiplin dalam pesawat udara, boleh menurunkan orang itu di mana-mana negara yang pesawat udara itu berada; dan (b) jika, dalam hal mana-mana orang dalam pesawat udara, dia mempunyai alasan yang munasabah bagi mempercayai sebagaimana yang disebutkan dalam perenggan (2)(b), boleh menghantar serah orang itu― (i) dalam Malaysia kepada seorang pegawai polis atau pegawai imigresen; atau (ii) dalam mana-mana negara lain yang adalah negara Konvensyen, kepada seorang pegawai yang mempunyai tugas bersamaan dengan tugas pegawai polis atau pegawai imigresen di Malaysia. (6) Komander sesuatu pesawat udara― (a) jika dia menurunkan mana-mana orang mengikut perenggan (5)(a) dalam hal pesawat udara kawalan Malaysia, dalam mana-mana negara atau, dalam hal manamana pesawat udara lain, di Malaysia, hendaklah melaporkan hal itu, dan sebabnya, penurunan itu kepada pihak berkuasa yang berkenaan di negara yang diturunkan; dan (b) jika dia bertujuan untuk menghantar serah mana-mana orang mengikut perenggan (5)(b) di Malaysia atau, dalam hal pesawat udara kawalan Malaysia, dalam mana-mana negara lain yang adalah negara Konvensyen, hendaklah sebelum atau sebaik sahaja dapat dilakukan dengan munasabahnya selepas pendaratan memberitahu tujuannya dan sebabnya, di negara yang berkenaan di Malaysia, kepada pegawai polis atau pegawai imigresen atau, dalam hal mana-mana negara lain yang adalah negara Konvensyen, kepada seorang pegawai yang mempunyai tugas bersamaan dengan tugas pegawai polis atau pegawai imigresen di Malaysia, dan mana-mana komander pesawat udara yang tanpa sebab yang munasabah gagal mematuhi kehendak subseksyen ini melakukan suatu kesalahan di bawah Akta ini dan apabila disabitkan boleh didenda tidak melebihi satu ribu ringgit.

Read this section in the full act → · Open Part II →

Find Act 307 on lom.agc.gov.my ↗

Text as at 1 January 2006 (LOM reprint); amendments made after that date may not be incorporated.

Source: Laws of Malaysia, Attorney General's Chambers of Malaysia (lom.agc.gov.my). Not a copy of the Gazette printed by the Government Printer (Interpretation Acts 1948 and 1967, s 61).

What to look at next