Evidence Act 1950 s 145
s 145 Cross-examination as to previous statements in writing
(1) A witness may be cross-examined as to previous statements made by him in writing or reduced into writing, and relevant to matters in question in the suit or proceeding in which he is cross-examined, without the writing being shown to him or being proved; but if it is intended to contradict him by the writing, his attention must, before the writing can be proved, be called to those parts of it which are to be used for the purpose of contradicting him.
(2) If a witness, upon cross-examination as to a previous oral statement made by him relevant to matters in question in the suit or proceeding in which he is cross-examined and inconsistent with his present testimony, does not distinctly admit that he made such statement, proof may be given that he did in fact make it; but before proof can be given, the circumstances of the supposed statement, sufficient to designate the particular occasion, shall be mentioned to the witness, and he shall be asked whether or not he made such statement.
Malay text (authoritative)
Pemeriksaan balas tentang pernyataan bertulis yang dahulu
(1) Seseorang saksi boleh diperiksa balas tentang pernyataan dahulu yang dibuat olehnya secara bertulis atau yang diubah ke dalam bentuk bertulis, dan yang berkaitan kepada perkara yang dipersoalkan dalam guaman atau prosiding yang dalamnya dia diperiksa balas itu, tanpa tulisan itu ditunjukkan kepadanya atau dibuktikan; tetapi jika dimaksudkan untuk menyangkal saksi itu dengan tulisan itu, sebelum tulisan itu boleh dibuktikan, perhatian saksi itu mestilah, diarahkan kepada mana-mana bahagian tulisan itu yang hendak digunakan bagi maksud menyangkalnya.
(2) Jika seseorang saksi, apabila diperiksa balas tentang pernyataan lisan dahulu yang dibuat olehnya yang berkaitan kepada perkara yang dipersoalkan dalam guaman atau prosiding yang dalamnya dia diperiksa balas itu dan yang tidak selaras dengan testimoni yang sedang diberinya, tidak mengaku dengan nyata bahawa dia telah membuat pernyataan itu, bukti bolehlah diberikan yang dia telah sebenarnya membuat pernyataan lisan itu; tetapi sebelum bukti boleh diberikan, hal keadaan pernyataan yang dikatakan itu, yang cukup untuk menentukan kejadian tertentu itu, hendaklah disebut kepada saksi itu, dan dia mestilah ditanya sama ada dia telah membuat pernyataan itu atau tidak.
Read this section in the full act → · Open Chapter X →
Find Act 56 on lom.agc.gov.my ↗
Text as at 1 May 2017 (LOM reprint); amendments made after that date may not be incorporated.
Source: Laws of Malaysia, Attorney General's Chambers of Malaysia (lom.agc.gov.my). Not a copy of the Gazette printed by the Government Printer (Interpretation Acts 1948 and 1967, s 61).